KROMATOGRAFI KOLOM
Kromatografi
adalah proses pemisahan yang tergantung pada perbedaan distribusi campuran
komponen antara fase gerak dan fase diam. Fase diam dapat berupa pembentukan
kolom dimana fase gerak dibiarkan untuk mengalir (kromatografi kolom) atau
berupa pembentukan lapis tipis dimana fase gerak dibiarkan untuk naik
berdasarkan kapilaritas (kromatografi lapis tipis). Perlu diperhatikan bahwa
senyawa yang berbeda memiliki koefisien partisi yang berbeda antara fase gerak
dan diam. Senyawa yang berinteraksi lemah dengan fase diam akan bergerak lebih
cepat melalui sistem kromatografi. Senyawa dengan interaksi yang kuat dengan
fase diam akan bergerak sangat lambat.
Pemisahan
komponen campuran melalui kromatografi adsorpsi tergantung pada kesetimbangan
adsorpsi-desorpsi antara senyawa yang teradsorb pada permukaan dari fase diam
padatan dan pelarut dalam fase cair. Tingkat adsorpsi xxi
komponen tergantung pada polaritas
molekul, aktivitas adsorben, dan polaritas fase gerak cair. Umumnya, senyawa
dengan gugus fungsional lebih polar akan teradsorb lebih kuat pada permukaan
fase padatan. Aktivitas adsorben tergantung komposisi kimianya, ukuran partikel,
dan pori-pori partikel.
Solven murni atau sistem solven
tunggal dapat digunakan untuk mengelusi semua komponen. Selain itu, sistem
gradient solven juga digunakan. Pada elusi gradien, polaritas sistem solven
ditingkatkan secara perlahan dengan meningkatkan konsentrasi solven ke yang
lebih polar. Pemilihan solven eluen tergantung pada jenis adsorben yang
digunakan dan kemurnian senyawa yang dipisahkan. Solven harus mempunyai
kemurnian yang tinggi. Keberadaan pengganggu seperti air, alkohol, atau asam
pada solven yang kurang polar akan mengganggu aktivitas adsorben.
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen kualitatif di
laboratorium kimia. Penelitian pendahuluan berupa penentuan perbandingan eluen
dan fasa diam yang digunakan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Kemudian
ekstrak buah merah dipisahkan dengan menggunakan kolom kromatografi. Kolom
kromatografi dan plat KLT yang digunakan telah dimodifikasi fasa diamnya yaitu
dengan menambahkan alumina dan mangan dioksida (MnO2) kedalam silika gel. Eluen
yang digunakan adalah campuran petroleum eter – dietil eter.
Hasil pemisahan diidentifikasi
dengan spektroskopi infra merah(IR), spektroskopi 1H-NMR dan Gas
Chromatography – Mass Spectroscopy (GC-MS).
ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
1. Alat
Alat-alat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah:
a.
GC-MS QP2010S
Shimadzu
b.
1H-NMR JEOL-MY60
c.
IR Shimadzu FTIR
Prestige 21
d.
TLC Plate
Coater
e.
TLC Chamber
f.
Kolom
Kromatografi Tekan
g.
Lampu UV 254 nm
h.
Peralatan Gelas
2. Bahan
Bahan-bahan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a.
Ekstrak buah
merah produksi I Made Budi
b.
Silica Gel 60 GF254 for TLC (E.Merck)
c.
Aluminiumoxid 150 basisch (Typ T)
d.
(alumina untuk
KLT) (E.Merck)
e.
Silica Gel 60 (0.063 – 0.200 mm) (E.Merck)
f.
Aluminiumoxid 60 active basisch (aktivitatsstufe I)
g.
(alumina untuk
kromatografi kolom) (E.Merck)
h.
Plat TLC Silica
Gel 60 F254 (E.Merck)
i.
MnO2 (E.Merck)
j.
Dietil eter p.a.
(E.Merck)
k.
Petroleum eter
p.a. (E.Merck)
l.
Rhodamin B
m.
Aquades
PROSEDUR PENELITIAN
1. Penentuan Eluen dan Fasa Diam denganKLT
Sejumlah
adsorben yang akan digunakan untuk pelapis dibuat bubur dengan sejumlah
pelarut. Adsorben yang digunakan sebagai fasa diam adalah silika gel yang
ditambahkan dengan alumina dengan perbandingan silika gel – alumina sebesar 2:3
serta dengan penambahan MnO2 masing-masing sebanyak 3% dan 5% dari berat total
fasa diam. Terlebih dulu silika gel diaktivasi dengan pemanasan pada suhu 110 –
125 oC sedangkan alumina diaktivasi pada suhu 125 – 150 oC selama beberapa jam.
Campuran fasa diam kemudian dibuat bubur dengan
menggunakan aquades dan diratakan pada plat kaca dengan menggunakan alat TLC
Plate Coater. Setelah adsorben pada plat kaca rata, plat lapis tipis yang
terbentuk didiamkan selama 30 menit dan dikeringkan dalam oven pada suhu 100 –
120 oC selama 1 jam. Plat yang telah kering didinginkan dan disimpan dalam
desikator.
Ekstrak
buah merah ditotolkan pada plat KLT modifikasi (silika gel : alumina, 2 :3, dan
MnO2) yang telah dibuat. Sebagai pembandingnya, ekstrak buah merah juga
ditotolkan pada plat TLC silica gel 60 F254 dan plat KLT dengan fasa
diam silika gel:alumina (2:3). Masing-masing plat kemudian dielusikan dengan
menggunakan larutan pengembang berupa petroleum eter:dietil eter dengan
perbandingan 7:3, 3:2, dan 1:1. Untuk mengidentifikasi adanya spot lipida pada
plat modifikasi, plat yang telah dielusi dikeringkan, kemudian disemprot dengan
0,5% rhodamin B dalam etanol dan diletakkan dibawah sinar UV. Spot yang akan
tampak adalah spot berwarna kuning atau berwarna ungu kebiruan ketika dilihat dibawah
sinar UV.
2. Pembuatan Kolom Kromatografi
Fasa
diam yang digunakan sebagai adsorben dalam kolom adalah silika gel yang
dimodifikasi dengan penambahan alumina (silika gel : alumina, 2:3) dan MnO2 3%.
Sebelumnya silika gel diaktivasi dengan pemanasan pada suhu 110 – 125 oC
sedangkan alumina diaktivasi pada suhu 125 – 150 oC selama 24 jam.
Campuran
adsorben dimasukkan kedalam kolom dalam keadaan kering, dimana sebelumnya kolom
telah diisi dengan pelarut petroleum eter hingga mencapai setengah panjang
kolom. Campuran adsorben dimasukkan ke dalam kolom tiap 3 gram untuk
menghasilkan lapisan-lapisan fasa diam. Keran pada kolom dibiarkan terbuka agar
pelarut dapat keluar. Kemudian kolom dikeringkan dari pelarut hingga mencapai 1
cm batas atas permukaan fasa diam.
3.
Pemisahan dengan
Kolom Kromatografi
Sampel berupa ekstrak buah merah dimasukkan
kedalam kolom dan dibiarkan terserap kedalam fasa diam. Teknik elusi yang
digunakan adalah teknik elusi gradien menggunakan petroleum eter:dietil eter
dengan perbandingan eluen dimulai dari 7:3,
3:2 dan 1:1. Eluat yang dihasilkan kemudian ditampung dalam vial-vial tiap 2 mL
dan dikeringkan dari pelarutnya.
Eluat yang telah kering dari pelarut atau eluen kemudian
ditimbang dan diuji dengan KLT. Nilai Rf yang dihasilkan dibandingkan dengan
nilai Rf dari plat KLT silika gel awal. Nilai Rf yang sama dikumpulkan kemudian
fraksi yang dihasilkan diidentifikasi dengan menggunakan IR, 1H-NMR dan GC-MS.
Pemisahan Dengan Kolom Kromatografi
Kolom
kromatografi yang digunakan adalah kolom yang telah dimodifikasi dengan
menggunakan fasa diam silika gel - alumina (2:3) ditambahkan dengan MnO2 3%.
Kolom modifikasi ini dibuat dengan metode kering yaitu dengan memasukkan
campuran fasa diam kedalam kolom yang telah berisi pelarut. Campuran tersebut
tidak dibuburkan terlebih dulu, tetapi langsung dimasukkan dalam keadaan
kering. Penggunaan metode kering dikarenakan ukuran dari partikel MnO2 yang
lebih kecil dibandingkan dengan silika gel dan alumina mengakibatkan MnO2 selalu
berada diatas sehingga tidak dapat bercampur sempurna (homogen). Selain itu,
berat dari MnO2 lebih ringan dibandingkan dengan silika gel dan alumina
sehingga bila fasa diam dimasukkan kedalam kolom, MnO2 akan selalu tertinggal
paling atas.
Gambar 7. Modifikasi Kolom Kromatografi
Kondisi
fasa diam yang sulit untuk bercampur (homogen) mengharuskan untuk menggunakan
suatu teknik yang dapat membuat fasa diam hampir mendekati homogen seperti pada
plat modifikasi KLT. Teknik yang digunakan adalah memasukkan campuran fasa diam
sedikit demi sedikit. Fasa diam yang akan terbentuk adalah fasa diam yang
membentuk lapisan-lapisan seperti pada gambar 7. Dengan teknik ini, fasa diam yang
dihasilkan hampir mendekati homogen sama seperti pada KLT modifikasi. Data-data
mengenai kolom kromatografi modifikasi yang dihasilkan dapat dilihat pada
lampiran 1.
Eluen yang digunakan adalah petroleum eter
dan dietil eter dengan perbandingan 7:3, 3:2, dan 1:1. Teknik elusi yang
digunakan adalah teknik elusi gradien yaitu dimulai dari perbandingan petroleum
eter:dietil eter sebesar 7:3. Kolom yang digunakan disini adalah kromatografi
kolom tekan, sehingga kecepatan alir dari eluen dapat diatur. Dalam pemisahan
dengan kolom modifikasi ini, kecepatan alir yang digunakan sekecil mungkin yang
artinya bahwa elusi yang terjadi berjalan lambat. Hal ini bertujuan untuk
memaksimalkan pemisahan dan reaksi yang terjadi antara fasa diam kolom
modifikasi dengan sampel. Ketika menggunakan kecepatan alir yang kecil, tekanan
didalam semakin besar, sehingga pemisahan yang terjadi menjadi lebih baik.
Ekstrak buah merah diletakkan didalam kolom dan dibiarkan
terjerap kedalam fasa diam terlebih dulu sebelum dilakukan elusi. Pada saat
pengelusian yang terjadi adalah fraksi berwarna merah terpisah lebih dulu yang
merupakan campuran trigliserida, asam lemak dengan beta-karoten. Setelah elusi
berlangsung lebih lama, warna merah dari beta-karoten kemudian sedikit demi
sedikit menjadi pudar. Ini menandakan bahwa beta-karoten sudah mulai bereaksi
dengan fasa diam. Kemudian terbentuk pemisahan berwarna kuning setelahnya dan
lama-kelamaan warna-warna dari pemisahan-pemisahan tersebut menjadi hilang
secara keseluruhan.
Tabel 7.Fraksi yang Dihasilkan dari
Modifikasi Kolom Kromatografi
|
Fraksi
|
Vial Eluat
|
Warna
|
Nilai Rf
|
Berat Fraksi
|
|
1
|
1 – 5
|
Kuning muda bening
|
0,87 – 0,94
|
294 mg
|
|
2
|
5 – 21
|
Tak berwarna
|
Tidak tampak noda
|
-
|
|
3
|
22 – 44
|
Kuning tua
|
0,57 – 0,68
|
256 mg
|
|
4
|
45 – 52
|
Tak berwarna
|
Tidak tampak noda
|
-
|
Identifikasi Senyawa
Fraksi
pertama dari kolom kromatografi modifikasi diidentifikasi dengan menggunakan
IR. Hal ini dilakukan untuk mengetahui atau menetapkan jenis ikatan (gugus
fungsi) yang ada dalam molekul. Fraksi diuji dalam keadaan „neat‟, yaitu dalam
keadaan cair tanpa pelarut. Spektra yang dihasilkan dari analisis IR dapat
dilihat pada gambar 10.
Spektra IR dari fraksi pertama
menunjukkan serapan dari uluran C-H pada alkana terletak pada 3000 – 2840 cm-1.
Pada daerah 2924,09 cm-1 merupakan serapan yang dihasilkan dari uluran tak
simetris dari gugus metilena (-CH2-) pada alkana. Sedangkan pada daerah serapan
2854,65 cm-1 merupakan serapan uluran simetris dari gugus metilena (-CH2-).
Serapan pada daerah 725,23 cm-1adalah pita serapan yang dihasilkan dari gugus
metilena untuk alkana rantai lurus yang terdiri dari tujuh atom karbon atau
lebih. Pada serapan 1458,18 cm-1 menunjukkan adanya serapan getaran tekuk tak
simetris dari metil (-CH3) sedangkan untuk getaran tekuk simetris berada pada
daerah 1373,32 cm-1.
Spektra
IR juga menunjukkan adanya pita serapan uluran gugus karbonil (C=O) yang kuat
dan tajam pada daerah 1743,65 cm-1. Daerah getaran uluran C-O ditunjukkan pada
daerah 1234,44 dan 1165,00 cm-1 dengan serapan yang tajam dan kuat ada pada
daerah 1165,00 cm-1. Serapan uluran –C-C(=O)-O- ester tersebut dibentuk dari
asam-asam tak jenuh. Serapan pada daerah 1658,78 cm-1 menunjukkan serapan dari
alkena berbentuk cis. Fraksi pertama selanjutnya diidentifikasi dengan
menggunakan 1H-NMR dengan frekuensi 60 MHz. Pelarut yang digunakan adalah
CDCl3. Identifikasi ini dilakukan untuk mengetahui pergeseran proton pada
senyawa yang ada dalam fraksi pertama. Fraksi pertama kemudian diidentifikasi
dengan menggunakan GC-MS dengan kondisi yang tertera dalam lampiran2. Tujuannya
adalah untuk mengetahui senyawa-senyawa yang terkandung dalam fraksi pertama
hasil kolom kromatografi modifikasi. Untuk dapat dideteksi dengan menggunakan
GC-MS, fraksi pertama perlu dilakukan perlakuan pendahuluan berupa reaksi
transesterifikasi. Hal ini dikarenakan titik didih dari fraksi pertama yang
merupakan senyawa trigliserida melebihi kapasitas dari alat yaitu melebihi suhu
300 oC. Data GC-MS menunjukkan bahwa senyawa yang dihasilkan berupa metil asam
lemak yang merupakan hasil transesterifikasi. Dilihat dari prosentase asam lemak,
asam lemak yang terbanyak adalah asam oleat. Senyawa lain yang terdeteksi
adalah senyawa baru dengan prosentase sebesar 3,83% yaitu dioktil phtalat.
Senyawa ini terdeteksi pada GC-MS berada paling akhir dengan titik didih yang
cukup tinggi dibandingkan dengan senyawa lainnya.
Berdasarkan
data-data yang dihasilkan dari identifikasi menggunakan IR, 1H-NMR dan GC-MS
dapat diambil suatu kesimpulan bahwa senyawa dalam fraksi pertama merupakan
suatu trigliserida. Dari data spektra serapan IR, menunjukkan adanya
gugus-gugus fungsi yang terdapat dalam senyawa ester (RCOOR) yaitu terdiri dari
serapan gugus karbonil (-CO-) dan gugus (-C-O-). Rantai R yang terikat pada
gugus -COO- ini adalah berupa rantai lurus alkana yang mempunyai 7 atom karbon
atau lebih dan juga terdapat ikatan rangkap berbentuk cis pada salah satu
ikatan alkana tersebut. Sedangkan dari data yang ditunjukkan pada spektrum dari
1H-NMR mengindikasikan bahwa fraksi pertama merupakan suatu trigliserida.
Dibuktikan dengan adanya gugus gliserida (CHx-OR), ikatan rangkap asam lemak
(HC=CH) dan proton pada C-α (CHx-C=O). Identifikasi dengan GC-MS menunjukkan
senyawa yang dihasilkan adalah suatu asam lemak yang merupakan penyusun dari
rantai ester trigliserida.
Hasil dari identifikasi senyawa
dengan menggunakan GC-MS bila dibandingkan dengan senyawa asam lemak yang ada
dalam ekstrak buah merah akan memiliki prosentase kandungan yang cukup
signifikan. Namun dalam hal ini yang terdeteksi dalam fraksi pertama hanya
sebagian dari senyawa asam lemak yang terdapat dalam esktrak buah merah. Asam
lemak tersebut adalah asam lemak yang berada dalam bentuk trigliserida,
sedangkan asam lemak yang tidak terdeteksi pada GC-MS merupakan asam lemak
bebas yang ada dalam fraksi kedua hasil pemisahan dengan kolom kromatografi.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan
pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa senyawa trigliserida dapat
dipisahkan dari senyawa-senyawa lain yang ada dalam ekstrak buah merah
menggunakan modifikasi teknik kromatografi kolom yaitu dengan menambahkan
alumina dan agen pengoksidasi berupa MnO2 kedalam silika gel. Senyawa
antioksidan dalam ekstrak buah merah akan melindungi trigliserida agar tidak
rusak atau teroksidasi selama proses elusi berlangsung menggunakan modifikasi
fasa diam tersebut







Tidak ada komentar:
Posting Komentar